Penggunaan Rasio Keuangan untuk Mengidentifikasi

Posted on Agustus 15, 2007. Filed under: Artikel |

Kautsar R. Salman

Abstract

High competition in business practices within unpredictable situation has been influencing the accounting practices used by a company. The fraudulent financial reporting will cause the distortion of the financial statement informed to public. The statement will not the accurate and relevant any longer. The increase of the fraudulent financial reporting will damage the public’s economic decision making. The use of financial ratio will become one of the aids used to identify the factors involved in the fraudulent financial reporting. Leverage/Solvency, Activity, Profitability, Growth, Asset Composition, and Liquidity Ratios are significant factors which used to identify factors involved in the fraudulent financial reporting.

Keyword : financial statement, financial ratio, fraudulent financial reporting, management fraud

Tingkat persaingan bisnis yang tinggi dalam lingkungan yang semakin unpredictable telah mempengaruhi pelaku bisnis dalam berbagai aspek. Berkaitan dengan financial information khususnya, pelaku bisnis harus mampu menyampaikan informasi yang benar-benar akurat dan relevan sebab publik sebagai main customer terhadap informasi ini sangat berkepentingan dalam proses decision making. Informasi keuangan yang akan dikonsumsi publik harus sejauh mungkin terbebas dari belenggu kesesatan atau kecurangan.

Praktik-praktik yang banyak dikenal dan ditempuh pelaku bisnis tetapi masih dalam koridor ethic dikenal dengan nama “praktek manajemen laba” yang meliputi : taking a bath, income minimization, income maximization, income smoothing, offsetting extraordinary/unusual gains and losses, aggressive accounting applications, timing revenue dan expense recognition. Namun, tidak sedikit pelaku bisnis yang melakukan praktek-praktek kecurangan (fraud) yang berakibat pada pendistorsian laporan keuangan. Feroz, Park, dan Pastena (1991) mengatakan bahwa “most target firms of the SEC enforcement actions are over-the-counter firms which are relatively smaller.” Hasil penelitian ini menjadi fakta bahwa kecurangan pada laporan keuangan menjadi masalah yang belum dapat terpecahkan khususnya pada perusahaan-perusahaan yang relatif kecil.

Meningkatnya kecurangan pelaporan keuangan disatu sisi menguntungkan pelaku bisnis dengan melebih-lebihkan (over stated) hasil usaha dan kondisi keuangannya sehingga kelihatan baik di mata publik, tetapi pada sisi lain merugikan publik yang sangat menggantungkan keputusan ekonominya dari informasi laporan keuangan. Informasi keuangan yang relevan dan bersih dari unsur fraud, akan melahirkan keputusan ekonomi yang tepat bagi pihak ketiga sebaliknya informasi yang mengandung kecurangan akan sangat menyesatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Terlepas apakah laporan keuangan mengandung unsur kecurangan atau tidak, pada dasarnya laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau selama jangka waktu tertentu. Salah satu media yang tepat untuk mengkaji secara lebih mendalam laporan keuangan adalah penggunaan rasio keuangan. Sofyan Syafri Harahap (1998:297) mengatakan bahwa rasio keuangan adalah “angka yang diperoleh dari hasil perbandingan satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).” Artikel ini mencoba membahas penggunaan rasio keuangan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan.

Rasio Keuangan

Rasio keuangan yang digunakan penulis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitang dengan kecurangan pelaporan keuangan adalah:

1. Leverage/Solvency ratio, menggambarkan kemampuan membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi.

2. Activity ratio, menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya.

3. Profitability ratio, menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya.

4. Growth ratio, menggambarkan persentasi pertumbuhan pos-pos perusahaan dari tahun ke tahun.

5. Assets composition, menggambarkan komposisi persediaan dan piutang yang terdapat dalam total aset.

6. Liquidity ratio, menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.

Definisi Kecurangan

Istilah kecurangan (fraud) sebenarnya telah dijelaskan dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) pada Pernyataan Standar Audit (PSA) No.16 dengan istilah kejanggalan/ketidakberesan (irregularities). Menurut pernyataan tersebut, irregularities menunjukkan pendistorsian secara sengaja terhadap laporan keuangan, seperti secara sengaja mengemukakan hal-hal yang tidak benar (misrepresentations) oleh manajemen, seringkali disebut sebagai kecurangan pelaporan keuangan atau kecurangan manajemen. Kecurangan pelaporan keuangan didefinisikan sebagai usaha dengan sengaja mengemukakan hal-hal yang tidak benar oleh manajemen, yang mengakibatkan adanya penyimpangan/distorsi dari laporan keuangan. Jenis lain dari suatu irregularities adalah penyalahgunaan harta kekayaan yang seringkali disebut sebagai Penggelapan (Defalcations).

Menurut Taylor and Glezen (1997:130), fraud didefinisikan:

fraud is more serious than error because it includes intentional misstatements or omissions of amounts or disclosures in financial statements. Fraudulent financial reporting (management fraud) and misappropiation of assets (defalcations) are examples. Basically, fraud occurs from the following:

1. Manipulation, falsification, or alteration of accounting records or supporting document from which financial statement are prepared.

2. Misrepresentation or intentional omission of disclosure of events, transactions, or other significant information.

3. Intentional misappropiation of accounting principles relating to amounts, classification, manner of presentation or disclosure.

Sedangkan Davia et al. (1992:48) menjelaskan bahwa fraud adalah “an intentional perversion of the truth in order to induce another to part with something of value or to surrender a legal right.” Pengertian fraud yang hampir sama dikemukakan oleh Sawyer (1981:713) yaitu : fraud is a false representation or concealment of a material fact to induce someone to part with something of value.”

Emile Woolf (1994:621) selanjutnya membagi fraud ke dalam dua kategori besar, yaitu (1) fraud yang mencakup manipulasi catatan dan jumlah, yang dilakukan oleh pejabat senior perusahaan, dan (2) fraud yang dilakukan karyawan, yang terdiri dari pencurian, penyalahgunaan atau penggelapan terhadap dana perusahaan, biasanya dalam bentuk kas, atau aktiva lainnya seperti persediaan di gudang.

Kecurangan Pelaporan Keuangan

Pelaporan keuangan yang mengandung unsur kecurangan dapat mengakibatkan turunnya integritas informasi keuangan dan dapat mempengaruhi berbagai pihak seperti pemilik, kreditur, karyawan, auditor, dan bahkan kompetitor. Kecurangan pelaporan keuangan sering digunakan oleh perusahaan yang mengalami krisis finansial dan yang dimotivasi oleh oportunisme yang salah arah (misguided opportunism). Taylor dan Glezen (1997:135) memberikan definisi dari kecurangan pelaporan keuangan, yaitu : “intentional or reckless conduct, whether act or omission, that results in materially misleading financial statements looks better than they really are.”

Schilit (1993:191) mengidentifikasi tujuh kategori besar shenanigans (istilah lain kecurangan pelaporan keuangan) antara lain : “(1) recording revenue before it is earned, (2) creating fictitious income, (3) boosting profits with nonrecurring transactions, (4) shifting current expenses to a latter period, (5) failing to record or disclosure liabilities, (6) shifting current income to a later period, and (7) shifting future expenses to an earlier period.”

The National Association of Certified Fraud Examiners menjelaskan beberapa alasan mengapa kecurangan pelaporan keuangan dapat terjadi, yaitu :

1. To make the company’s stock look more attractive and encourage investment.

2. To increase earnings per share and allow for increased dividend pay outs

3. To obtain additional financing or more favorable terms on existing financing.

4. To meet company goals and objectives.

5. To produce bonuses based on financial performance.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan

Faktor-faktor resiko yang digunakan auditor untuk menetapkan kemungkinan terjadinya kecurangan pelaporan keuangan (Taylor and Glezen, 1997:137-138), meliputi :

a. Management Characteristics

w Manajemen tidak menunjukkan dan mengkomunikasikan suatu sikap yang yang baik terhadap pengendalian internal dan proses pelaporan keuangan.

w Kompensasi manajemen didasarkan pada sasaran hasil operasi atau posisi keuangan yang tidak masuk akal.

w Manajemen berusaha untuk meningkatkan harga saham atau trend earning dengan cara praktek akuntansi yang agresif.

w Tingkat perputaran manajemen terutama manajer senior dan anggota dewan adalah tinggi.

w Manajemen dan pihak auditor (sekarang atau sebelumnya) mempunyai hubungan yang tidak baik.

b. Industry Conditions

w Adanya persyaratan akuntansi yang baru, undang-undang, atau peraturan yang mempengaruhi stabilitas atau profitabilitas dari entitas.

w Tingkat persaingan atau kompleksitas pasar yang menyebabkan penurunan marjin.

w Arah perubahan dalam industri satuan usaha adalah menurun dengan disertai banyak kegagalan bisnis.

w Tingkat perubahan dalam industri satuan usaha adalah cepat yang meliputi permintaan (demand) konsumen/pelanggan, teknologi, atau keusangan produk.

c. Operating Characteristics and Financial Stability

w Klien berada dalam tekanan yang signifikan untuk mendapatkan modal yang dibutuhkan bagi penelitian atau pengeluaran modal yang besar.

w Laporan keuangan didasarkan pada estimasi yang subyektif.

w Struktur keuangan klien mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan tingkat bunga.

w Klien dihadapkan pada masalah kebangkrutan.

w Klien telah melaporkan pertumbuhan earning, namun tidak dapat menghasilkan arus kas dari operasi.

w Transaksi kompleks yang tidak biasa terjadi mendekati akhir tahun.

Penelitian lain dilakukan KPMG Peat Marwick yang telah mengembangkan model penelitian yang dapat memberikan pemahaman tentang indikator-indikator terjadinya kecurangan pelaporan keuangan yaitu:

1. Kondisi yaitu tingkatan dimana kondisi yang menunjukkan bahwa suatu kecurangan manajemen yang material dapat terjadi.

2. Motivasi yaitu tingkatan dimana orang-orang yang mempunyai posisi dalam entitas mempunyai alasan atau motivasi untuk melakukan kecurangan manajemen.

3. Sikap yaitu tingkatan dimana orang-orang yang mempunyai posisi dalam entitas mempunyai sikap atau seperangkat nilai-nilai etis yang memungkinkan mereka untuk melakukan management fraud.

Tabel A Model of Indicators of Fraudulent Financial Reporting

w Conditions

Primary indicators

1. Management decision are dominated by one person or a few people acting together.

2. The entity is involved in purchase, sale, or merger activities with another entity.

3. The entity has weak control.

Secondary indicators

1. Management has high turnover.

2. The entity is a new client thas has never been audited.

3. The entity has had rapid growth in recent years.

w Motivation

Primary indicators

1. The entity’s industry is in decline, and its net income relative to the industry is low.

2. The entity has significant contractual commitments.

Secondary indicators

1. Management compensation is based on recorder performance.

2. The entity face significant losses from lawsuits.

w Attitude

Primary indicators.

1. The auditor has detected a degree of management dishonesty.

2. The entity place undue emphasis on meeting earnings projections.

3. The entity has had fraud in prior years.

Secondary indicators.

1. Management has had frequent disputs with the auditor.

2. The company frequently changes auditors.

Penggunaan Rasio Keuangan untuk Mengidentifikasi Faktor-faktor yang berkaitan dengan Kecurangan Pelaporan Keuangan

Obeua S. Persons (1999) melakukan penelitian dengan menggunakan beberapa variabel/rasio laporan keuangan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan. Model yang digunakan adalah stepwise-logistics model dengan menggunakan sampel terdiri dari 203 perusahaan yang melakukan kecurangan dan 203 perusahaan yang tidak melakukan kecurangan pelaporan keuangan. Hasil model menunjukkan bahwa financial leverage, capital turnover, asset composition, dan firm size merupakan faktor-faktor signifikan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan.

Obeua S. Persons (1999:40) dari hasil penelitiannya mengemukakan bahwa leverage yang lebih besar dapat dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan pelanggaran terhadap perjanjian kredit dan kemampuan yang lebih rendah untuk memperoleh tambahan modal melalui peminjaman. Pendapat serupa dilontarkan Christie (1990) yang mengatakan bahwa “leverage is positively correlated with income-inhacing accounting policies.” Apabila kebijakan akuntansi memadai untuk menghindari suatu pelanggaran pinjaman hutang, manajer akan termotivasi untuk melakukan kurang saji hutang atau lebih saji pada aktiva.

Obeua S. Persons (1999:41) menjelaskan bahwa “managers of fraud firms may be less competitive than management of fraud firms in using firm’s assets to generate sales.” Ketidakmampuan dalam penggunaan aset perusahaan memberikan motivasi bagi manajer untuk terlibat dalam kecurangan pelaporan keuangan (fraudulent financial reporting). Tingkat profit yang rendah juga andil memberi dorongan bagi manajemen dalam pengungkapan lebih saji revenues atau kurang saji expenses. Hal ini sesuai dengan pandangan Summers and Sweeney (1998:136) yang mengatakan bahwa apabila ekspektasi untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat profitabilitas masa lalu tidak dapat dipenuhi oleh kinerja aktualnya, memberikan motivasi bagi adanya pelanggaran kecurangan pelaporan keuangan.

Rapid growth juga dapat dikaitkan dengan adanya kecurangan, hal ini diungkapkan oleh Beasley (1996) dan Bell et al. (1991). Pendapat lain juga dikemukakan oleh Summers and Sweeney (1998:136) bahwa “unethical managers may be induced to misstate financial statement, when growth slows or reverse in order to maintain the appearance of consistent growth.” Perusahaan yang melakukan unsur kecurangan menunjukkan bahwa komposisi aktiva lancarnya didominasi jumlah piutang dan persediaan yang lebih besar. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Feroz, Park dan Pastena (1991) yang menemukan bahwa kasus-kasus tuntutan hukum terhadap perusahaan yang melakukan kecurangan pelaporan keuangan ¾ disebabkan oleh salah saji piutang dan persediaan.

Kecurangan pelaporan keuangan juga dapat dikaitkan dengan tingkat likuiditas. Tingkat likuiditas yang rendah mendorong manajer untuk melibatkan dirinya dalam suatu kecurangan pelaporan keuangan. Pendapat ini dikuatkan oleh Kreutzfeldt dan Wallace (1986) yang menemukan bahwa perusahaan dengan problem likuiditas secara signifikan mempunyai tingkat kesalahan yang lebih besar dalam laporan keuangannya daripada perusahaan yang tidak menghadapi masalah likuiditas.

Kesimpulan

Rasio keuangan dapat digunakan sebagai salah satu media untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan. Dari hasil pembahasan menunjukkan bahwa leverage/solvency, activity, profitability, growth, assets composition, dan liquidity merupakan faktor-faktor signifikan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kecurangan pelaporan keuangan.

Daftar Rujukan

Beasley, Mark S. 1996. An Empirical Analysis of The Relation Between The Board of Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting Review. Vol. 71 (4) : 443-465.

Bell, T. B., et al. 1993. Assessing The Likelihood of Fraudulent Financial Reporting : A Cascaded Logit Appoach. Working Paper. KPMG Peat Marwick. Montvale. New Jersey.

Christie, A. 1990. Aggregation of Test Statistics : An Evaluation of The Evidence on Contracting and Sixe Hypothesis. Journal of Accounting and Economics. (January) : pp. 15-36.

Davia, H., et al. 1992. Management Accountant’s Guide to Fraud Discovery and Control. New York: John Wiley & Sons.

Ikatan Akuntan Indonesia. 1993. Standar Profesional Akuntan Publik. Jakarta.

KPMG Peat Marwick. 1993. Fraud Survey Result 1993. New York.

Kreutzfeldt, R., dan W. Wallace. 1986. Error Characteristics in Audit Populations : Their Profile and Relationship to Environment Factors. Auditing : A Journal of Practice & Theory. (Fall) : pp. 20-43.

Persons, Obeua S. 1999. Using Financial Statement Data to Identify Factors Associated with Fraudulent Financial Reporting. Journal of Applied Business Research. Vol. 11 (3): pp. 38-46.

Sawyer, Lawrence B. 1981. The Practice of Modern Internal Auditing. New York: The Institute of Internal Auditors Inc.

Schilit, Howard M. 1993. Financial Shenanigans: How to Detect Accounting Gimmick and Fraud in Financial Reports. New York: Mc Graw-Hill, Inc.

Sofyan S. Harahap. 1998. Analisa Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Summers, S. L., dan John T. Sweeney. 1998. Fraudulently Misstated Financial Statement and Insider Trading : An Empirical Analysis. The Accounting Review. (January) : pp. 131-146.

Taylor, D. H., dan G. W. Glezen. 1997. Auditing: an Assertions Approach. Seventh Edition. New York: John Wiley & Sons.

Woolf, Emile. 1994. Auditing Today. Fifth Edition. New York: Prentice Hall.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Penggunaan Rasio Keuangan untuk Mengidentifikasi”

RSS Feed for My Tax Community Comments RSS Feed

bisa dijelaskan, bagaimana analisis rasio dapat digunakan untuk mendeteksi financial statement fraud? tq

saya tertarik dengan artikel anda, tolong jelaskan bagaimana analisis rasio dapat digunakan untuk mendeteksi financial statement fraud? thanks


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: